Kita Semua Egois




Semalem rasanya gue pengen marah, kediri sendiri dan orang di sekitar gue. Kenapa? Karena, gue merasa kita semua ini egois.

Blogger yang kehilangan identitas


Foto bersama teman-teman komunitas blogger - 2015
Jalan pemikiran manusia memang tidak selalu sama.
Mendefinisikan diri sebagai blogger, berarti kita menulis di blog.
Pun dengan saya yang setengah blogger, setengah content writer.
Saya mungkin bisa senang dan sepenuh hati ketika punya kesempatan dan bisa menulis di blog ini.
Di sisi lain, ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan. Menjadi content writer yang di bayar oleh perusahaan yang memiliki klien dan meminta content tertentu untuk di ulas.

Ada pro dan kontra pastinya. Saya bisa belajar banyak untuk menulis, membaca lebih banyak dan menggali pengetahuan-pengetahuan baru dari berbagai bidang dan industri dari klien yang di handle. Namun, saya juga perlu menuliskan apa yang kadang bukan ketertarikan saya. Apalagi untuk hal yang kadang bertolak belakang dengan diri, meski menyebut diri sebagai anonim di setiap artikel yang dibuat. Mendapati fase menjadi blogger sepenuhnya pun terasa cukup menyenangkan, walau saat itu masih tidak punya banyak uang dan minim pengetahuan. Tapi bisa bebas berekspresi melalui tulisan.

Bukan hanya saya yang setengah blogger yang kadang kehilangan identitasnya. Mungkin, kamu pun bisa merasakannya meski tidak menjadi content writer, walaupun kadang tidak menyadarinya. Bertanya, pernah gak sih kamu menemukan blog yang berisi ulasan dari berbagai brand dan hanya sedikit atau bahkan tidak ada konten yang dibuat atas kemauannya sendiri? Saya sering kali menemukannya. Seakan kita menjadi blogger hanya untuk memuaskan brand. Seakan kita menjadi blogger hanya untuk mendulang rupiah dari satu brand ke brand lain.

Sering kali, kita menjadi blogger yang kehilangan identitas.

Keluyuran Ke Sabang dari Jakarta via Kuala Lumpur




Pulau weeeeeeeeh! Gitu kata guru PKN gue waktu SMP saat bilang nama pulau paling barat di Indonesia dengan nada sambil mengejek bercanda sama murid-muridnya.

Gue sendiri sebenernya hopeless untuk keluyuran di nusantara ini. Kenapa? Karena, tiket pesawat di dalam negri ini mahal betul! Jadi, kadang gue mikir, mending gue keluyuran ke luar negri sekalian deh!

Bikin SKCK Online di Mabes POLRI




Menjelang tahun ajaran baru atau penerimaan pegawai CPNS biasanya banyak banget yang dateng ke kantor polisi buat bikin SKCK, mulai dari MABES POLRI sampe ke POLSEK. Nah, kali ini gue mau share informasi tentang bikin SKCK Online.

Hal pertama yang perlu di lakukan adalah menyiapkan kebutuhan data dan soft copy pas foto. Karena di website polri nantinya kita akan di minta untuk mengisi data tersebut. Semua sudah siap? Cus, buka leptopnya dan klik SKCK ONLINE POLRI nih!


Tampilan websitenya akan seperti ini. Tipe website one page yang kalo kalian scroll terus sampe bawah yaudah mentok deh sampe bawah menu nya. Terus gimana bikin skck nya? Coba deh perhatikan pojok kanan atas, disitu ada tulisan form pendaftaran, bisa di klik dan nantinya akan muncul pop up seperti berikut!


Setelah muncul pop up seperti di atas, kita bisa isi sampe selesai deh! Oh iya, tempat pembuatan SKCK juga beda-beda ya. Ada mulai dari mabes polri sampe ke polsek, tergantung kebutuhan.

Nah, setelah selesai isi form pendaftaran, kita haru tetap ke kantor polisi ya. Jadi gak benar-benar semuanya melalui online. Kita hanya mengisi data di website tersebut. Setelah isi form di website tersebut, nantinya kita akan dapet email yang berisi file pdf. Kita perlu print filenya ya.



Pesantren, Pacaran dan Angan Nikah Muda




Selamat berlebaran! Yes, ini 1 syawal atau kita sering sebut juga dengan Hari Raya Idul Fitri. Semua muslim di seluruh negara di bumi ini merayakan idul fitri yang juga berarti merayakan bersama keluarga dan berkumpul dengan mereka.

Setiap keluarga yang berkumpul pasti punya cerita yang berbeda-beda setelahnya, yang mainstream mungkin tentang pertanyaan-pertanyaan kapan nikah. Ya, dewasa ini pun gue mengalaminya, gak jarang doa untuk gue adalah segera bertemu jodoh dan menikah, ya gak salah juga, mereka tau gue bukan anak baru gede lagi. Terlepas dari pertanyaan tersebut, hari ini gue mendapat satu hal yang cukup gue terheran-heran. Baca kan judul di atas? Nah, tentang hal tersebut.

Masa awal remaja alias ABG atau Anak Baru Gede adalah sesuatu yang cukup menantang dan deg-degan kalo gak kita lewati dengan benar, salah-salah hal yang di lakuin, bisa bikin kita kecebur di kehidupan suram. Ya, semua orang pasti mengalami hal ini. Tapi, kehidupan seseorang akan berbeda-beda dong, termasuk dipengaruhi oleh lingkungan, teman dan tempat bergaul, pendidikan, serta cara kita berpikir.

Di satu syawal yang berbahagia ini gue bertemu dengan banyak orang dan keluarga-keluarga, banyak sekali. Sampe ada satu momen gue duduk dan jalan bareng ke mall bersama anak ABG yang sekolah di pesantren. Karena ada momen yang lumayan lama, akhirnya kita sharing. Anak abg ini baru kelar 2 SMA (atau MA ya kalo di pesantren?), gue tau betul saat libur dan bisa menggunakan social media anak ini sering kali galau ala anak abg. Ya! its okaaaaay! Tapi...

Kehidupan di pesantren, Gak boleh ketemu lawan jenis

Pondok pesantren yang kita tau melalui sinetron ya pesantren yang lucu-lucuan, ada kisah romantis juga biasanya. Tapi, pesantren ternyata ya gak kayak yang di sinetron juga. Siswa perempuan gak boleh ketemu siswa laki-laki. Gue pun baru tau ini. "Whaaaatttt? pantes aja kalo anak pesantren terus keluar pesantren saat liburan terus mereka pecicilannya lebih dari anak abg pada umumnya!" dalam hati gue. Karena ya gue tau gimana rasanya jadi abg, cinta monyet anak smp-sma, sedangkan mereka buat ketemu lawan jenis aja gak boleh. Oke, kita memang bicara soal batasan bergaul, tapi ini cuma ketemu aja lho. Gak berarti mereka akan nongkrong-nongkrong atau ngobrol ngalor-ngidul sama lawan jenis kan (?)

Anak pesantren gak boleh pacaran, Tapi...

Namanya juga pesantren, jadi mesti semua hal yang di larang sama agama islam pasti di larang di pesantren. Termasuk pacaran, ya walaupun gak ada ayat atau hadist yang saklek melarang pacaran dan kita tau di pacaran ada hal yang dilarang dalam agama islam, misalnya hal terkecil yang umumnya di lakukan kalo orang pacaran deh, pegangan tangan dengan yang bukan muhrim. Ya, mereka gak pacaran (di dalem pesantren), tapi ya di luar pesantren dan saat libur panjang siapa yang tau juga.

Mereka berangan-angan seperti manusia kebanyakan

Gue jadi rada aneh dalam hal ini. Ketika gue jalan ke mall sama anak pesantren, dia nyeletuk "munkin aku 6-7 tahun lagi akan seperti mereka" sambil liat ke arah pasangan yang lagi gandengan tangan. "Hah? pacaran gitu?" tanya gue "Iya. hehehe. malah temen-temenku lagi pengen cepet-cepet nikah setelah lulus sekolah" Jawab anak kelahiran 2002 ini. Dia juga bilang tentang pelajaran kalo lagi bahas tentang munakahat(tentang pernikahan) pasti pada semangat belajarnya. Dulu waktu gue sekolah juga belajar tentang munakahat sih, tetep belajar kayak biasanya tapi ya kadang kita ledek-ledekan aja soal munakahat ini, bukan berarti terus pengen nikah muda, kita malah tetep mikirnya nanti kerja atau kuliah dimana. Gue rasa ada yang salah sih, bukankan mereka terlalu belia untuk menikah ya? Atau, ada hal lain yang di ajarkan tentang masa depan dan dunia yang cukup luas untuk di jelajahi selain tentang pernikahan gak sih? Gatau deh ya.

Well, gue percaya gak semua anak pesantren kayak gini. Tapi, sebagai orang dewasa, gue jadi mikir untuk kedepannya masalah pendidikan. Dek, papa-mamamu menyekolahkan kamu agar jadi anak yang soleh, baik, dan berguna. Semoga kamu bisa menjadi apa yang di harapkan oleh orang tuamu ya.