Membayar (Jangan) Dengan Exposure


Source

Belum lama ini jagat digital digemparkan soal "membayar dengan exposure" oleh keluarga selebgram yang minta trip gratis ke US untuk 20 orang dan menukarnya dengan exposure.

Belajar Apa Waktu Kecil Dulu?



Tentu kita pernah merasa kecewa dengen orang tua kita, Gue pun. Sampai pernah memblock kontak bapak. Sampai akhirnya gue sadar, banyak hal yang ada dalam diri kita sekarang juga karena didikan orang tua kita saat kita masih kecil dulu.

Memaafkan kesalahan, walau tidak terlupakan. Mencoba mengingat hal-hal baik apa yang sudah kita dapatkan sejak kecil, memori saat kecil mungkin cukup terbatas untuk diingat kembali. Tapi, kadang banyak softskill ataupun hardskill dalam diri kita yang secara kita tidak sadari kita mempelajari hal tersebut sejak kecil, meski di dewasa ini jarang dipakai.

Kemarin malam temen gue membagikan satu post di instagram storynya. Cukup bikin gue mikir dan berterimakasih atas hidup yang sekarang. Well, gue mau membagikannya juga di blog post ini.

Source: IG @Lunarbaboon (https://www.instagram.com/p/B65mH5CAROm/)
Dari post diatas, yang gue tangkap bukan omongan orang lain tentang "That's going to end poorly." ketika berkomentar si anak perempuan yang main berbagai macam perkakas. Tapi tentang anak perempuan yang akhirnya bisa benerin atap menggunakan perkakas yang memang dia bisa gunakan. Kalau dulu waktu kecil si anak perempuan gak dikasih main perkakas, belum tentu waktu besar dia bisa ngerti guna dari perkakas dan cara benerin atap.

Gak cuma di komik, ini pun kejadian di gue. Dulu waktu kecil, gue suka naik sepeda. Sepeda gue kadang bermasalah, ban sepeda udah gundul, pernah meletus, ataupun bocor dan mengharuskan gue untuk ganti ban. Gak ke bengkel, bapak malah beli ban sepeda dan pasang ban tersebut di rumah. Pertama kali, gue cuma disuruh ngeliatin. Sampe akhirnya saat bapak gak ada di rumah, gue nyoba bongkar-bongkar sepeda gue sendiri. Gue bermain dengan perkakas-perkakas milik bapak. 

Masa kecil berlalu dan memulai hidup yang sekarang. Gak tinggal sama orang tua, pergi kerja naik motor dan kadang naik sepeda, mulai hari senin sampe jumat di kantor dan libur di akhir pekan. Sampe pada suatu hari, gue naik sepeda ke kantor dan ban sepeda gue meletus. Sial. Gue perlu menuntun sepeda gue dari fatmawati hingga cipete. Menemukan beberapa bengkel motor yang sayangnya mereka gak mau pegang sepeda meski hanya untuk mengganti ban. Mengganti ban, bukan menambal ban, karena gue membawa ban cadangan. "gak berani" katanya. Saat itu sepeda gue memang bukan pakai ban sepeda biasanya, gue pake ban sepeda balap 700c yang ukurannya lebih kecil. Bengkel satu berlalu, bengkel kedua berlalu, bengkel ketiga pun menolak. Lalu membuka google maps dan melihat dimana ada bengkel sepeda terdekat. Ternyata semuanya lumayan jauh dan gue pun udah jalan lumayan jauh.

Sampai akhirnya sebelum pergi dari bengkel ke-tiga yang juga menolak, gue akhirnya bilang "Bang pinjem kunci-kuncinya aja ya, saya mau ganti ban sendiri.", setelah dipersilakan untuk menggunakan kunci-kunci bengkel ke-tiga. Akhirnya, gue mengganti ban sepeda gue sendiri. Salah satu hal yang mungkin gak semua anak perempuan bisa lakukan. 

Awalnya, gue memang sebal karena harus berjalan dengan jarak yang lumayan sambil menuntun sepeda. Tapi gue jadi mikir, gak semua orang punya skill yang gue miliki. Tukang bengkel motor pun belum tentu mau ngerjain sepeda. Gue beruntung, sedari kecil sudah belajar. Diakhir hari, gue menyadari bahwa kita didik dan belajar. Hingga di masa depan hanya diri kita yang bisa menolong kita. Orang lain bisa jadi hanya menjual jasa, tapi untuk mengusahakan yang terbaik untuk diri kita, ya cuma kita yang bisa melakukannya. 

Kepada bapak yang sudah mengajarkan banyak hal, jika suatu hari nanti bapak membaca tulisan ini, terima kasih banyak untuk setiap hal yang tidak ternilai harganya.


Kita Semua Egois




Semalem rasanya gue pengen marah, ke diri sendiri dan orang di sekitar gue. Kenapa? Karena, gue merasa kita semua ini egois.

Blogger yang kehilangan identitas


Foto bersama teman-teman komunitas blogger - 2015
Jalan pemikiran manusia memang tidak selalu sama.
Mendefinisikan diri sebagai blogger, berarti kita menulis di blog.
Pun dengan saya yang setengah blogger, setengah content writer.
Saya mungkin bisa senang dan sepenuh hati ketika punya kesempatan dan bisa menulis di blog ini.
Di sisi lain, ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan. Menjadi content writer yang di bayar oleh perusahaan yang memiliki klien dan meminta content tertentu untuk di ulas.

Ada pro dan kontra pastinya. Saya bisa belajar banyak untuk menulis, membaca lebih banyak dan menggali pengetahuan-pengetahuan baru dari berbagai bidang dan industri dari klien yang di handle. Namun, saya juga perlu menuliskan apa yang kadang bukan ketertarikan saya. Apalagi untuk hal yang kadang bertolak belakang dengan diri, meski menyebut diri sebagai anonim di setiap artikel yang dibuat. Mendapati fase menjadi blogger sepenuhnya pun terasa cukup menyenangkan, walau saat itu masih tidak punya banyak uang dan minim pengetahuan. Tapi bisa bebas berekspresi melalui tulisan.

Bukan hanya saya yang setengah blogger yang kadang kehilangan identitasnya. Mungkin, kamu pun bisa merasakannya meski tidak menjadi content writer, walaupun kadang tidak menyadarinya. Bertanya, pernah gak sih kamu menemukan blog yang berisi ulasan dari berbagai brand dan hanya sedikit atau bahkan tidak ada konten yang dibuat atas kemauannya sendiri? Saya sering kali menemukannya. Seakan kita menjadi blogger hanya untuk memuaskan brand. Seakan kita menjadi blogger hanya untuk mendulang rupiah dari satu brand ke brand lain.

Sering kali, kita menjadi blogger yang kehilangan identitas.

Keluyuran Ke Sabang dari Jakarta via Kuala Lumpur




Pulau weeeeeeeeh! Gitu kata guru PKN gue waktu SMP saat bilang nama pulau paling barat di Indonesia dengan nada sambil mengejek bercanda sama murid-muridnya.

Gue sendiri sebenernya hopeless untuk keluyuran di nusantara ini. Kenapa? Karena, tiket pesawat di dalam negri ini mahal betul! Jadi, kadang gue mikir, mending gue keluyuran ke luar negri sekalian deh!